Kamis, 14 Februari 2013

PUISI KIRDJOMULYO



Kirdjomuljo
 ANGIN PAGI
 III
Yang pertama kupunya
dan terakhir kulepaskan
adalah kemerdekaan
Kemerdekaan yang lahir semacam alam
bersayap semacam burung
basah dengan cinta semacam pagi
Mengatasi segala apa pun
bagaimana juga permintaannya
atau pun dibunuhnya aku
Inilah milikku yang pertama-tama
 IV
Yang pertama kucintai
dan akhirnya kukatakan
adalah kebenaran
Kebenaran yang lahir dari arti
mengalir dan melekat pada alam
dan hati
Kebenaran yang memberi sesuatu
dan mencerminkan
alam, cinta dan manusia
Karena ia adalah semacam permata


Juni Purnama
Jauh sudah aku menguatkan hatiku
Mempertahankan bunga-bunga mekar dimataku
Menyanyikan ombak berkejaran
Bicara dan bertahan diantara mereka dilembah
Jauh aku memahami tatapan sejarah
Mempertahankan langkah yang kumulai bersama
Bemafas bersama kehidupan nafas mereka dilembah
Meyakinkan langkah-langkah kebangsaan

Tetapi detik ini aku menyerah
Terbang tanah hati yang kupertahankan
Ia baru mencapai usia menjelang satu musim
Senyumnya belum tersampaikan demikian jauh
Tetapi telah sampai kepadaku
Ia bukan mata air dari sebait puisi
Tetapi detik ini tak bisa kubertahan menyebutnya
Dan jauh dari segala itu
Aku mengaku. Ingin segera bersua






PENGGALI BATU KAPUR

Beginilah ia berjanji
dengan irama guyur batu
hingga ladang berderak
burung-burung merendah
merasa betapa berat langit
betapa berat hati
angin menggantungi sayap
kabut meradangi arah

Entah ia melepas dera
entah bertahan dari derik
atau tertantang keras batu
nyanyinya sederas getar derita
langsung mengenai dasar
darahku memutih
tulang menyusut
- Hula hule hula ho oo
hula hule hula oo

Begitu berat melepas
sekejap datang sekejap hilang
ditiupkan arah angin
matanya pudar hijau kapur
dahinya hitam-hitam batu
peluhnya deras putih letih
jejak makin dalam
lagunya makin memanjang
hilang lepas-lepas

Ketika satu berhenti mengayun
ia memandang padaku
bersenyum, senyum ladang
bertanya dengan suara bukit
- tuan heran memandang kami
kami lahir di tanah kapur
anakku empat, anakku putih
mata ayah hidung ibu
gelaknya melepas angin

- Aku terharu bapa
seluruh umur di tanah kapur
kulit bapa hitam batu
mata bapa jernih kapur
cinta berlebih, dari yang lain
hati bapa hati belerang
cinta alam sekeras bintang
tak pernah kujumpakan di manapun

- Begitu bercinta umur
tapi jangan tuan terlalu lama
memandang kami
jangan menerima seperti kami
sebelah utara ada laut
sebelah selatan ada pantai
kalau kami tak berjanji
pada diri dan kebun halaman
sudah bukan lagi penggali kapur

Salam tuan
marilah turut menyanyikan
akan tuan rasa nanti
getar apa tersimpan di hati
getar di hati kami
-
hula hulee hula ho oo
hula hulee hula ho oo
getar dalam hitam malam
getar jauh biru laut

DEWA BUMI



DEWA BUMI
Karya : Ary Wibowo

Saat bumi sudah mulai tak nyaman lagi dihuni, sejak bencana-bencana datang menerpa bumi yang semakin tua itu, muncullah ee... hm ya kita sebut saja dia dewa.... ya.. dewa bumi. Karena ini merupakan lakon fiktif dalam drama-drama yang biasa ditanyangkan di panggung teater.

Adegan 1
1.      Dewa : (berkata dengan sungguh-sungguh) hm hm, sungguh terpaksa aku turun kebumi, tidak biasanya aku datang dengan resmi seperti ini kebumi, biasanya dikhayangan sana, aku adalah dewa yang pemalas, enggan memikirkan keadaan bumi, ya walaupun aku adalah pengurus resmi keberadaan bumi di jagat raya ini. Biasa... aku kan bangsawan. setidaknya aku mencontoh bangsawan-bangsawan yang ada dibumi, dimana antara kerja dan malas lebih banyak malasnya.. yah begitulah, jika berkuasa, jika tidak yah gak seperti itu... Baik to the point saja, sudah cukup basa-basiku. Kedatanganku kemari karena mendapat tugas untuk melihat kondisi bumi lebih dekat. Aku ingin tahu siapa penyebab bencana-bencana yang terjadi belakangan ini. (teringat) Oh ya ... sebelum kesana kita lihat dulu sepintas keadaan bumi yang dahulu kala, saat masih asri dan indah. (memanggil operator) Hey operator tayangkan keadaan bumi yang masih asri.. (operator tidak merespon kemudian kepada penonton, mengeluh) wah begini ini kalau bekerja dengan orang yang tidak profesional. Harusnya, sebelum aku memerintah mereka sudah tanggap.. (kesal karena cukup lama menunggu) eh belum ditayangkan juga... (kepada operator) hey operator,,,, segera tayangkan...!
2.      Operator : (masuk) he e tuan baik saya kerjakan ...
3.      Dewa : bagus ... sana cepat...!

Slide menyala gambar bergerak keasrian bumi keindahan bumi, menggambarkan bumi adalah planet yang layak dihuni. Musik mengalun indah... mendukung tanyangan slide.
Setelah beberapa menit dewa ingat sesuatu.

4.      Dewa : (kepada operator) hey operator pause dulu sebentar
5.      Operator : kenapa sih tuan kan sudah jalan videonya..
6.      Dewa : hmmm kamu ini... sudah pause saja gak usah banyak cing cong
7.      Operator : ciiuuuss ni...
8.      Dewa : iya ciusss ....
9.      Operator : miiyapa....
10.  Dewa : mie ayam... sudah sudah... sana kerjakan keburu habis nanti tayangannya...
11.  Operator : baik-baik ...!
12.  Dewa: (kepada penonton) monoton yah... jika hanya tanyangan ini saja... eee,,, (berpikir) oh ya bagaimana kalau membaca puisi juga.... oke-oke...? (kepada pemusik) heh pemusik ambilkan puisi-puisi itu di dekat kursiku di dalam..
13.  Pemusik : baik tuan ....

Pemusik mengambil puisi

14.  Pemusik : (masuk Panggung) Ini tuan ...
15.  Dewa : baik terima kasih yah...
16.  Dewa : (kepada penonton) baik ini ada beberapa puisi siapa yang ingin membacakannya disini? ...

Setelah ada beberapa penonton yang maju ke depan , tapi sang dewa hanya memilih dua orang untuk membacakan puisi-puisi itu...

17.  Dewa : lah yah itu sip kalian... (penonton maju kepanggung) baik kau yang membaca terlebih dahulu lalu kau yah...
18.  Dewa : (kepada operator) baik operator lanjut videonya...
19.  Operator : siap tuan....

Saat tanyangan slide dan musik sudah berjalan penonton yang terpilih mulai membacakan puisi tersebut. Sampai selesai hingga penonton itu kembali ketempat duduknya.

20.  Dewa : terima kasih ya... anyong paseong....!! arasso / mator skelangkong...

Adegan 2
21.  Dewa : itulah keadaan bumi dimasa lalu, sungguh sangat berbeda dengan bumi sekarang, kalau sekarang bumi sudah tak lebih dari penjara, membuat pengghuninya sungguh tidak nyaman. Banyak terjadi banjir, gunung-gunung mulai batuk-batuk, lapisan ozon mulai terbakar dan bolong besar dilapisan bumi tersebut, ditambah lagi hama ulat bulu sudah sampai kedaerah ini, wah wah sunggung mengerikan iklim sekarang ini. Oh ya sebentar (mengambil hp di balik jasnya) nah ini dia kabar terbaru akan terjadi pemadaman matahari karena matahari sudah lelah bekerja, yang bahaya lagi adalah badai matahari,,,
Huh benar-benar mengerikan (memasukkan hp), oh ya kemarin katanya longsor... di daerah mana itu ya... emmm haahhh pokoknya mengerikan... nah itu semua yang membuatku datang, aku ingin tahu sebab semua itu, walaupun masih banyak lagi yang terjadi disana...




Adegan 3
Tiba-tiba hp dewa berbunyi, nampaknya ada telfon dari pemerhati kelestarian alam yaitu menteri kehutanan ZULKIFLI HASAN.

22.  Dewa : telfon dari siapa ini, menggangkuku saja saat aku sedang bermain teater. (mengangkat telfon) Halllo hallo... siapa ini, apa zulkifli hasan... (kepada penonton) Zulkifli hasan.. tau siapa dia? ... (tidak ada respon) Mangkanya update biar gak down greatt getohhh... huh dia itu menteri kehutanan tau.. (kembali ketelfon) iya pak ada apa ya... apa, ingin memberitahu penyebab dari bumi yang sekarang... iya pak kenapa ya pak (kepada penonton) kok bisa tau ya .... hebat betul orang ini, benar-benar update. (kembali ke telfon) iya pak terus... apa akan dikirim lewat email .. (kepada penonton) benar-benar update (kembali ketelfon) iya pak ini email saya www.wwegombel.com, terima kasih pak, sampai jumpa lagi...(menutup telfon) baik kubuka dulu emailku...  downloads.... (kepada operator) hey... operator ini coba tayangkan..  video ini...!
23.  Operator : baik tuan....!

Ditanyangkan video tingkah laku manusia yang tidak menjaga kelestarian alam. Musik menyayat mengalun... Dewa dan beberapa crew panggung menangis melihat video tersebut.

24.  Dewa : aku sudah tidak bisa berkata-kata dan tidak bisa bilang woow ... haduh ini benar-benar membuatku galau tingkat dewa..
25.  Operator : sabar pak ... santai... seperti di pantai ... slow... seperti di pulau....
26.  Dewa : santai-santai ... kondisi seperti ini kau bilang santai... bencana besar sudah didepan mata,.,,, haduh,,,, bagaimana ini...

Tiba-tiba muncul suara ledakan besar... sangat keras dan muncul slide tayangan letusan gunung, lalu banjir, tsunami, tanah longsor dan gempa bumi....

27.  Dewa : hahhh sudah datang ... tolong-tolong ... aku benar benar galau... tolong... ampun.... ampun...
28.  Operator: tuan... tuan... ada apa ini... tuan
29.  Dewa : dasar bodoh ... ini bencana tolol... segera sembunyi... ayo kita pergi ke planet mars, bangsa amerika sudah menyiapkan pesawat luar angkasa besar yang dipesiapkan untuk megungsikan masyarakatnya ke planet mars.... ayo sembunyi di kolong bawah tanah... sepertinya jepang sudah mempersiapkan kota bawah tanah untuk menghindari dari bencana... (tiba-tiba berteriak dan pingsan) argggggggghhhhh...

Belum sempat pergi dewa sudah pingsan karena bencana yang dahsyat yang terjadi di bumi.... setelah beberapa saat semua bencana itu usai... suana menjadi hening ....

Adegan 4
Suasana hening, operator terbangun dan dewa masih pingsan

30.  Operator : (sambil tertatih-tatih menuju sang dewa, membangunkan dari pingsannya dan membawanya kekursi) tuan-tuan bangun... bencana sudah usai...
31.  Dewa : sudah berakhir ... astaga... apa yang terjadi tadi .... hey operator sepertinya kita harus berdoa... mari kita berdoa.

(song of lakon ZERO “Putu Wijaya”)
Wahai engkau yang ada disana
Maafkan kami yang sudah lalai
Dosa kami mendera bumi
Masih adakah sekali lagi
kesempatan memperbaiki
perilaku jahat kami
kalau boleh sekali lagi
kami berjanji
tidak akan mengulangi
merusak kelestarian bumi.

32.  Dewa : semoga yang disana mendengarkan do a kita semua...
33.  Operator : iya tuan....

Adegan 5
Tiba- tiba suasana sekitar menjadi panas, rupanya ozon sudah membesar dan matahari jatuh dari tangkainya, panasnya bukan main... slide matahari, badai matahri muncul..

34.  Dewa : ada apa ini... kenapa suhu disini panas sekali..
35.  Operator : lihat tuan... lihat kelangit... rupanya ozon membesar ....
36.  Dewa : wah rupanya matahari mulai marah, matahari sudah jatuh dari tangkainya.. menyemburkan api dan matahari meletuskan lidahnya... semua itu akan mengakibatkan radiasi yang sangat hebat, akan merubah iklim menjadi panas dalam seketika, curah hujan menjadi tidak menentu dan naik dengan seketika. Sebentar panas sebentar hujan dan panas lagi... akan terjadi iklim seperti itu.... (kepada crew) heh operator dan semua crew.... segera kalian lakukan reboisasi.... ambil bibit pohon kemudian tancapkan... setidaknya kita harus membuat matahari tersenyum... ayo cepat... cepat..

Kemudian segenap crew menancapkan pohon dipangung. Tetapi keadaan tidak berubah slide tayangan matahari itu masih berjalan.
Kemudian dewa mengajak penonton untuk menancapkan pohon yang ada disekitar gedung pertunjukan untuk ditancapkan dipanggung. Dibantu beberapa crew untuk mengarahkan penonton.
37.  Dewa : keadaan tidak berubah sepertinya butuh banyak pohon untuk membuat matahari tersenyum. Hey para penonton mari kita bersama-sama tancapkan pohon-pohon di sini, agar matahari yang menyinari bumi bertahun-tahun bisa tersenyum kembali... lakukan reboisasi masall... jangan sampai penjahat-penjahat hutan melukai hutan ini. Jaga dan lestarikan alam ini .... jaga dan lestarikan alam ini....

Setelah semua pohon diletakkan dipanggung.. keadaan berubah matahari mulai tersenyum slide tanyangan matahari marah berubah menjadi tayangan kelestarian alam yang benar-benar lestari. Dan hp sang dewa berbunyi...

38.  Dewa : (mengangkat hp) Hallo dari siapa ya..... hah Zulkifli Hasan.... iya pak ... apa pak...? ingin mengucapkan terima kasih... untuk apa pak... karena saya sudah menjaga kelestarian alam...! hallo hallo pak hallo......!

Pertunjukan selesai lampu mati musik mengalun suasana bahagia..... tapi bayang-bayang bencana masih ada jika kita tidak benar-benar menjaga kelestarian hutan...

Selesai / the end
                                                                                   

            Jember, 10 Januari 2013,
                                                                        Ide cerita dari naskah Zero Karya putu wijaya
Oleh Ary Wibowo

“Monolog” ORANG GALAU


kisah fiktif yang sengaja di Nyatakan
Oleh:  ary

Suatu malam diselimuti dinginnya kabut dari angkasa, terdapatlah seorang anak manusia yang hidup sendiri. Menjalani hidup dengan kesepiannya, menjalani hidup dengan kehampaannya. Berpikir siapa yang membuat semua itu. Disanalah monolog ini dimulai.
Setting adalah sebuah ruang yang hampa penuh dengan barang-barang bekas barang tak berguna, beberapa kotak begeletakan. di tengah panggung terdapat tali gantungan yang sengaja dia buat untuk menggantung dirinya sendiri.
Duduk pada pojok depan panggung sambil memunguti putung-putung rokok dari setumpuk sampah disekitarnya.
Dia adalah anak muda yang gagal dalam menggapai mimpinya...! bukan gagal dalam cinta..,.. karena cinta hanya sebatas didalam kolor. Sedangkan mimpi itu adalah cita-cita yang mulia untuk hidupnya yang akan datang.
Menyalakan rokok dan berfantasi dengan pikirannya.

Aku diam sendiri untuk merujuk sebuah kisah yang mungkin sudah usang sekarang untuk kuungkap, aku bertugas membuat manusia semakin galau menikmati sisa hidupnya, walau dalam keseharianku aku hidup normal apa adanya. Berjalan tak meniti jalan dan berjalan menikmati dingin malam dan panas hari.
Kisahku bermula saat aku telah putus asa akan mimpi-mimpiku, mimpi dari cita-cita menjadi egoistis untuk menciptakan sesuatu yang berharga untuk diriku sendiri. Menjalani kisah yang semakin hari semakin membisu terlelap dalam kelamnya malam terbuai dalam panasnya siang. Saat itulah aku merasakan ubun-ubunku tak mampu merasukkan hawa dingin, saat bulu kudukku tak mampu berdiri saat kurasakan dingin, saat aku tak mampu berkeringat lagi saat air dalam tubuhku selalu kutorehkan dalam tangisanku tiap hari untukmu. Itulah kenyataan yang pahit yang harus ku dera walau sakitnya melebihi dari apapun juga.

Berdiri menatap kedepan kosong yang kemudian dia mondar mandir seperti kebingungan dan berhenti pada tiang gantungan berbicara diantara tiang tersebut

Lagi-lagi ku teringat hari itu, hari selasa saat pertama aku bangun dari tidurku setelah beberapa lama aku tak henti-hentinya merengek-rengek memanggilmu, menjadikanmu dewa baru untukku menjadikanmu tuhan baru untukku. Sebenarnya aku ini bertanya-tanya untuk apa memikirkanmu. Untuk apa aku menidurimu dalam kelam kabut keabadian pada mimpiku. Sajak-sajak yang kutulispun tak berpengaruh akan penghargaan atas dirimu. Yang kau butuhkan hanya satu, Orang terdekat denganmu. Orang yang setiap hari bersamamu menemanimu dalam susah maupun bahagia. Itulah sebenarnya yang kamu inginkan. Dan kembali lagi kepada malam itu. Saat itu aku melihat sebercak cahaya seakan mau masuk melalui ruas-ruas jendela kamarku. Entahlah cahaya itu bertuliskan sesuatu tapi aku tak mampu untuk membacanya. Dan akhirnya aku menyadari dan mengetahui apa yang masuk ke dalam jendela kamarku.
Lagi-lagi bayanganmu yang busuk selalu menyertaiku, bayanganmu yang sudah tak kuhendaki terus datang menghampiriku. Datang menelusup bagai duri yang masuk kedalam kulit kakiku sangat sulit untuk ku keluarkan.  Kenapa kamu menjadi racun buatku. Beberapa hal itu yang selama ini kudera terus menerus menakutiku dalam malam dan siang yang biasa kulewati dengan keceriaan. Selama dua tahun ini aku rasakan yang berbeda.
Dan hari ini seperti biasa aku adalah orang terakhir yang berada disini, terakhir menikmati kegelisahan itu sendiri. Semua serba sendiri berjubel tanpa ada kawan disamping hanya mata hati yang tertutup saat ku inginkan sebuah kehadiran sosoknya dalam gelapku yang selalu menjadi embun dalam ruang-ruang  waktu yang membualkan. seperti tak ada lagi kisah selanjutnya aku merenung sendiri menikmati kenistaan yang sengaja ku buat sendiri. Sungguh ini merupakan cerita fiktif yang sengaja aku munculkan kedaratan dari ruang bawah sadarku kumunculkan secara nyata hingga merasuk dan mencaci tubuh dan relung hatiku sendiri.
Oh ya... aku pernah diberi sebuah nasehat oleh temanku yang mungkin sekarang aku suka. Dia bercerita padaku tentang kabarnya bahwa dia kehilangan atas segala satu-satunya yang bearti dalam hidupnya. Dia katakan aku bisa tabah atas semuanya yang terjadi padaku.! kenapa kamu tidak padahal seyogyanya kamu masih memilikinya secara lengkap.. yah... orang tuamu. Sejak itulah kata-katanya selalu ada dalam benakku walaupun perasaan atas ingatanmu sangat besar mengalahkan segalanya tapi aku masih mampu mengalahkannya
.
Menuju sebuah kotak dan ditumpuklah kotak-kotak itu menjadi sesuatu bentuk yang tinggi dan bisa untuk dinaiki
Naik ke kotak-kotak tersebut.
Sudahlah kenapa pikiran ini selalu tertuju padamu. Aku adalah binatang galau dari kumpulan bukan orang terbuang. Sendari dulu tak bisa kuhentikan tak bisa kutuliskan dalam secarik kertas yang mana mereka selalu menganggapku tak ada dengan keberadaannya. Aku manusia galau tapi bukan untuk galau. Aku manusia sendiri, hidup memakan diri untuk diri yang akan mati. Karena aku yakin tuhan itu ada. Tuhan menjanjikan jika hidup ini hanya sementara saja.
Sebenarnya aku tak mampu menghadirkan simbol dalam pertunjukan ini aku hanya mampu menghadirkan kegelisahanku. Kesetiaan dan pengabdian dibalas dengan luka yang memborok dalam sanubariku yang selalu menyertai hari-hari ku yang tak ku buat indah lagi karena kamu. Aku tak ingin hanya menyalakanmu karena ini adalah salahku sendiri aku benci dengan diriku sendiri yang begitu hina dalam keberadaannya.

Turun menatap keatas menangis seperti orang memanjatkan doa.

Kepada siapa aku harus meminta kepada siapa semua ini aku harus katakan jika kamu sengaja menutup telingamu untuk diriku. Apa yang kamu inginkan dariku. Dendammu karena aku yang tak pernah mempedulikanmu dulu karena mimpi-mimpi bertumpuk membentuk sebuah monumen instalasi yang membuat penampilannya menjadi artistik. Mimpi-mimpi yang bisa dikatakan masih absurd keberadaannya. Mimpi-mimpi jika ia dikumpulkan akan menjadi seribu kata-kata indah yang mengalahkan akata-kata indah dalam tulisan sang penyair. Mimpi-mimpi untuk mengumpulkan seribu burung kertas untuk menggapai suatu impian yang menjadikannya sebuah mitos legenda dari manusia. Bedebah.. mimpiku tak lebih dari sekumpulan sesuatu yang kutumpuk dalam karung menjadi busuk karena sengaja kubusukkan sendiri.
Oh.... Masih terus saja kamu menyelinap dalam pikiranku padahal aku sengaja memutar musik ini sampai genderang telingaku ingin pecah. Masih saja kau melukis wajahmu di mataku padahal mataku sengaja aku tatapan pada seberkas layar dan Masih saja kau tulisakan namamu saat aku sedang menulis kisah ini. Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku atau aku menginginkan sesuatu darimu.

Duduk terlungkup menangis menjerit merasakan sakit sehingga membuatnya sesak,

Aku lagi-lagi merasakan sesuatu yang tak kuinginkan ini datang selalu menyerangku dalam kegelisahan yang sengaja kuciptakan. Ooooorrgg(kesakitan) berjalan untukku oh kekasih malamku aku membuntuhkan sentuhanmu untuk pengobat laraku ini. Aku cukup  setia untuk menunggumu sampai aku mati. Aku cukup tuk menjadi bangkai yang kemudian akan kau abaikan. Oh aku ingin berjalan menuju keabadian. Tuhan katakanlah apakah aku akan merasakan bahagia sepertinya. Apakah Kelak kegelisahanku ini akan berakhir. Aku tak kuat rasanya harus menanggung semua hanya untuk satu orang, satu orang yang tak pantas mendapatkan semuanya dariku. Tapi sengaja aku memikirkannya sengaja aku torehkan kedalam hati dan pikiran ini untuk menjadi kertas yang abadi yang tumbuh dalam kegelapan dengan tetes air mata sebagai pembangun rohnya.

Berdiri kembali menatap kedepan ke kiri panggung

Semoga kisaku tidak membuat pembaca dan pendengar semakin galau untuk mencaci memaki kisah yang tak sungguh-sungguh penting ini. Kisah ini hanya sesuatu dalam tubuh yang ingin kukeluarkan seperti TAI.. yang selalu kukeluarkan setiap hari. Dan sebenarnya kisah ini masih panjang mau kah kalian mendengarkanya..? (bertanya pada penonton)

Baik jika kau tak mau mendengarkan akan aku ceritakan satu kisah lagi untuk menutup cerita ini (menghidupkan rokok yang sempat terinjak olehnya di awal monolog). Ini kisah tentang keseharianku yang sengaja ku buat menjadi tidak nyaman. Dulu aku membuat semuanya seperti ini menempaktkan sesuatu pada kondisi yang teramat baik dan memang pantas untuk dijadikan pujian. Kulakukan satu persatu, tahap demi tahap kuinginkan dia berada di atas langit menggapai kejayaan yang luar biasa. Tapi sekarang aku berada ditempat itu merasa tak nyaman sendiri karena sesuatu itu yang sangat menggajal. Sesuatu itu membuat kondisi menjadi bobrok kembali. Aku bertanya kenapa kau lakukan, begini keadaan yang seharusnya...! kenapa kau lakukan itu mana wujud pengahargaanmu untukku.  Apa yang kalian inginkan? Apa?

Memandang kesisi kanan

Sesungguhnya saat aku berada pada tempat itu aku inginkan sebuah revolusi disegala lini yang menjadikanmu seuatu yang bergharga untuk dirimu sendiri. Ini untukmu bukan untukku. Apa susahnya kalian mempertahankan dan melestarikan budaya yang sudah lama sekali ingin kumunculkan kembali. Dan akhirnya saat aku berada disana aku menjadi Galau, aku di gelisakan oleh keadaan yang kubuat sendiri. Aku membuat otakku enggan berfikir jernih enggan untuk menuangkan ide kreatifku pada tulisan. Pada apa yang harus kuhantamkan hati dan pikiran ini yang selama ini membuatku buta. Buta sebuta-butanya, buta menjadi tuli, tuli menjadi bisu, bisu menjadi tuna dan tuna menjadi autis.
Menyalahkan diri sendiri (marah)

Sebenarnya keGalauan ini kumunculkan sendiri, sebenarnya rasa ini kumunculkan sendiri, sebenarnya kegelisahan ini kumunculkan sendiri. Semua berpusat pada pikiranku. Dan tidak ada orang yang tak pernah mengalami galau karena galau itu adalah sebagian sifat yang jelek, karena akan memunculkan rasa yang dilarang dalam agama, karena galau akan membuat iri, dendam, tidak tau diri dan sombong. Itulah sebenarnya aku tahu atas keberadaan galau dalam diriku tapi hanya sebatas teori untuk itu. (berjalan ketali gantungan) Dalam keadaanku galau itu adalah menu utama yang tak bisa hilang akan kujadikan candu seorang wanita itu dan wanita itu menjadikaku candu padanya yang akhirnya menjadi candu untuk sendiriku dan aku akan mencandukan galau lagi. Semoga ini tak berlaku untuk kalian.semoga saja...!

Memegang tali tiang gantungan memainkanya dan memotong  tali tiang tersebut dan memikul tiang dan memukulkan kepada kepalanya.
Lampu mati,
Monolog Selesai

Jember 16 agustus 2012

MONOLOG

MONOLOG
KENAPA HARUS JACK

PANGGUNG ADALAH SEBUAH REPLIKA SEBUAH PEMATANG SAWAH, YANG HANYA TERDIRI DARI BEBERAPA TUMBUHAN PADI, DAN POHON YANG TINGGAL RANTING SAJA. BESERTA DAUN-DAUN KERING YANG BERSERAKKAN, DENGAN DIIRINGI SUARA MUSIK YANG MEMBISINGKAN TELINGA, MUNCUL AKTOR YANG BERNAMA JACK SECARA TIBA-TIBA DARI BALIK POHON KERING.
Jack     (MEMANGGIL) Ibu, ibu, Ibu.....
            Tidak ada yang mendengar, apakah ia telah tuli setuli bumi ini,
            Ibu... ibuu...  tidakkah kau mendengar jeritan anakmu ini
            Aku haus,,,
            Aku kepanasan.....
            Aku berkeringat....
            (MENGHELA NAFAS PANJANG)
            (DUDUK LEMAS ) apa yang telah terjadi, aku berada di tempat apa ?
            Apakah ini bumi yang katanya satu-satunya sumber kehidupan,
Kehidupan macam apa ? semua serba mati, kering dan panas....
Ini bukan bumi, ini Indonesia, yah negara Indonesia yang GEMA LIPAH LOH JINAWI...
Indonesia, berbicara indonesia aku jadi teringat sesuatu,,,,
Dahulu kala berdiri sebuah kerajaan yang bernama majapahit, kerajaan tersebut sangat makmur sehingga rakyat hidup sejahtera. Bahkan wilayahnya pun hampir seluruh nusantara...!
Oh selain majapahit ada juga kerajaan besar yang bernama sriwijaya, kerajaan tersebut sangat kaya raya, memiliki armada laut yang kuat, dan wilayah kekuasaan yang hampir meliputi sumatera, jawa dan kalimantan...
Tapi kenapa yang sejahtera dan kaya raya menjadi seperti ini?
Mungkinkah ini kutukan alam...!
(MENGINGAT SESUATU) entah aku dapat dari mana pengetahuan itu, yang jelas sewaktu kecil aku pernah mendengar nenekku bercerita kepadaku, karena aku tak sekolah, jadi jangankan sejarah hitung-hitungan pun tidak bisa.
(TIBA-TIBA ANGIN KERING MENIUPKAN KEARAH JACK) angin tak lagi menyegarkan, aku yang berkeringat seperti ini, tetap saja berkeringat.
(BERDIRI MELANGKAH DAN DUDUK DI ATAS BATU BESAR) jika hanya bercerita seperti ini sama saja TONG KOSONG NYARING BUNYINYA . aku harus melakukan sesuatu, ya..
(SEOLAH-OLAH MENJADI SESEORANG PEMBICARA) seharusnya kita menjadi manusia yang peduli pada lingkungan efek rumah kaca sudah kita rasakan, apa penyebabnya, ? salah satunya adalah ulah dan tingkah laku kita sendiri, kita membuat polusi, merokok, membuang sampah sembarangan dan membuat kebisingan dan tidak memperhatikan kelangsungan kehidupan....! maka dari itu lakukanlah pelestarian lingkungan, hindari merokok, dan membuat polusi udara...!
(TERSADAR) lho kenapa harus aku yang berbicara seperti itu, aku hanya orang biasa yang tidak tahu muncul dari mana, dan hari ini pun hari apa? akupun tidak tahu...
(MENCARI SESUATU DAN MENEMUKAN SEBUAH RANTING YANG SUDAH RAPUH) (MENYANYI) Kenapa harus seperti ini, terasa sepi, sendiri disini, haruskah aku kembali lagi, entah kemana, ku harus kembali,   
Ah kemanakah harus bertanya .... dimana aku,  siapa aku, kemana aku,  bagaimana aku....?
Kenapa harus datang panas ini, kenapa kekeringan di sekitarku... ada apa dengan alam ini, ada apa dengan udara dan suhu yang ku rasakan.
Oh ibu... oh ibu,,,, oh ibu maafkan aku..
(TERJATUH LEMAS) (MEMBUKA BAJU) tempat apa ini ? aku sudah tidak kuat lagi menghadapi keadaan yang seperti ini, panasnya minta ampunnn....!
Aku tahu apa yang menyebabkan keadaannya seperti ini, ini tak lain dan tak bukan ialah ulah kita sendiri... ya bukan.... (TERTAWA)
(TERSADAR) ohh kenapa menyalahkan diri sendiri, memang kita melakukan apa?
(MENJADI ORANG LAIN) kenapa kau menyalahkan kami, memang apa salah kami adakah keraguan yang datang di benakmu sehingga membuatmu berpikir seperti itu.
(KEMBALI KE DIRINYA) he... aku tak berbicara main-main, ini pembicaraan serius dan memang benar kitalah yang berperilaku jahat dan semena-mena terhadap kelestarian alam ini... siapa yang berkata kalau pembicaraanku ini adalah hanyalah main-main, kau ...! apa kau...! dan apa kau....!
            (MENJADI BINATANG) aku tidak tahu apa-apa aku saja mencari makan susah karena sekarang rumah ku ini tak seperti dulu lagi.
(KEMBALI KE DIRINYA) hmm benar-benar sekali lah siapa yang menganggap pembicaraan ini adalah main-main? Ah sudahlah tidak penting membicarakan semua itu.
            Yang penting ialah bagaimana aku bisa kembali ke asalku...! dan yang paling penting adalah bagaimana kita melakukan sesuatu untuk perubahan yang benar-benar perubahan.
            (BERPIKIR) (SAMBIL BERSIUL-SIUL) kenapa saat aku bersiul seperti ini tak ada burung yang menyahut siulanku...? memang aneh benar-benar aneh...
            (MENYANYI) mungkin alam telah bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa..
            Akhirnya aku dapat menarik kesimpulan bahwa penyebab semua ini adalah Tuhan... ya tuhan mulai bosan akan tingkah kita.
            Tuhan telah menciptakan bumi beserta isinya, menciptakan alam semesta beserta penghuninya...
Nah semua itu tergantung pada kita, bagaimana kita menjaga atas pemberian tuhan itu, apakah kita harus semen-mena apakah kita harus saling menyalahkan, apakah kita harus selalu setia menunggu sebuah peristiwa yang benar-benar sakral untuk manusia.
Dan perstiwa itu benar-benar akan datang, kita lihat saja sekarang apa yang aku rasakan atas suasana dan cuaca saat ini, panas bukan..! apabila suatu benda sering terkena panas pasti akan hancur, dan mungkin saja sebentar lagi matahari bukan lagi menyinari tetapi menghantui....!
Peristiwa itu akan dan pasti datang....
Ingat keberlangsungan hidup kita terancam..
(TERJATUH LEMAS) apa ini, perkataan apa yang lahir dan keluar dari ulu hatiku ini, sekarang ku dihadapkan oleh sebuah ancaman dan kegelisahan akan diriku dan kebenarannya... kenapa harus aku yang seperti ini, kenapa mesti terjadi..!
Ibu,,,,, ibu..... kenapa aku harus memanggilmu, kenapa...!
Dimanakah   anakmu ini berada, ini tempat apa..? apakah ini neraka yang kau pernah ceritakan kepadaku, kenapa tempat ini kering dan mataharinya tak bersahabat. Mungkinkah karena perubahan inilah yang membuatku berada disini, apa benar aku yang diutus untuk menolong umat manusia?
Ah tidak itu hanya omongan yang tak ada ujung kebenarannya...! pastikanlah kepada kau yang melihat ini semua. Aku datang bukan untuk menolong dan untuk di tolong. Tapi aku mencari jawaban apa sebanarnya yang terjadi padaku, kenapa aku harus berada disini...?
(TIBA-TIBA MUNCUL CAHAYA ANEH MENYOROT KEPADA SATU TITIK) oh  kenapa sekitar gelap.. aku tidak merasakan apa-apa tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar... gelap....
(BERPUTAR-PUTAR) oh kenapa ini- kenapa... ibuuuu ibuuuu ibuuuu, apa yang terjadi... apa yang terjadiii..
(TERJATUH LEMAS) (MENANGIS) (MENYANYI) ohh ibuuu ibuku, ibumu ibu kita semua, apa yang terjadi pada tempat ini, apakah naluri seluruh umat manusia telah mati akan alam ini.. sehingga kegelapan, kengerian dan keheningan ini tercipta...!
(CAHAYA WARNA SENJA MENYALA) ahhh akhirnya aku bisa merasakan semua, (TERINGAT) kenapa aku tadi berbicara seperti itu,,..! siapakah aku? Dimanakah aku?(DIAM)
Sejak tadi aku muncul dan secara tiba-tiba aku disini, aku terus bertanya siapa aku, dimana aku dan kenapa aku?
Semua pasti tak akan menemukan jawabannya, dan pasti akan buntu....!
Jika dpikir-pikir tadi aku merasakan panas, merasakan kegelapan, dan sekarang aku merasakan akhir dari penderitaan.. yah ini senja kan? sebentar lagi akan datang malam ? Ini mungkin pertanda akhir dari kehidupan...
(TERSADAR) tidak-tidak aku bicara apa, (DIAM) nglantur..!
(CAHAYA KEMBALI TERANG) lihat panas datang lagi dan bahkan sekarang ditambah dengan hujan, kenapa dengan tempat ini, kenapa ..? apa yang telah kita lakukan ? apa yang kau lakukan dan aku lakukan? Semua berkisar kepada kita...!  aku ,...... aku mungkin adalah kegelisaan dari diriku yang telah lama mati.... karena aku yang membuat semua ini terjadi... dan mungkin tempat ini adalah tanah kelahiranku....
Ibu......
Ibu....
Ibu....
Ibu.... pertiwi,,,....
Ibu bumi...........      
Lampu fade out... diiringi musik menyayat.....
                                                                                                Jember, 5 Juni 2011